Bermacam Ulasan,  Ulasan Buku

Aruna & Lidahnya: Ruwet yang Seksi

Berbicara tentang karya sastra yang bercerita tentang “makanan” atau “kuliner” atau yang bersangkut-paut dengan gastronomi, aku tentu saja tidak bisa melewatkan novel “Aruna dan Lidahnya” karya Laksmi Pamuntjak. Novel ini bahkan pernah difilmkan dengan judul yang sama, dibintangi oleh Dian Sastro dan pasangannya yang amat serasi: Nicholas Saputra. Tapi di sana mereka tidak dipasangkan sebagai kekasih ya, dan itu menyenangkan. 😅

Meski novel ini pernah membuatku mengalami “reading slump”—istilah yang belakangan ngetren untuk mewakili kondisi nggak mood baca, malas baca, dan sejawatnya—tapi syukur akhirnya bisa kuselesaikan juga tahun ini (satu tahun setelah mulai membacanya). Waktu itu aku berhenti baca di tengah-tengah cerita karena menurutku buku ini terlalu ruwet sampai sulit dipahami. Dan, setelah aku selesaikan bacaanku, aku akan meralatnya. Itu bukan ruwet, tapi ruwet bin njimet bin rudet. Tapi dalam kondisi yang… seksi.

Ruwetnya bukan karena sok puitis atau sok adiluhung (karena kadang ada buku yang kalimatnya puitis, indah, mendayu tapi rasanya kosong. Empty. Yang kalau dipandang dari kritik formalisme Rusia disebut kegagalan perangkat bahasa), tapi ruwet karena banyak sekali lapisan makna yang tersembunyi dengan malu-malu dalam kalimat-kalimatnya. Pandangan hidup, adegan manis, ingatan, mimpi seperti disampaikan dengan bisikan. Tidak banyak kalimat yang berteriak minta diperhatikan. Tapi tanpa teriakan pun dia sudah bisa menarik perhatian, memaksa kita—well, aku—untuk membaca lebih dalam. Karena kalau tidak begitu, kalimat Laksmi cuma akan berakhir pada “ruwet” dan bukan “ruwet yang seksi”.

“Laki-laki yang kemarin,… entah kenapa menyerahkan dirinya untuk kuhidu meski tak seluruhnya, hanya aroma kopi dan kayunya juga aroma kejunya… dan juga sebaliknya, meski tak seluruhnya krim, tiram, dan bau ikanku.” – hal. 339

Lihat, betapa ruwet namun seksi kalimat itu. Anehnya, pengindraan yang tercecap dan terhidu lewat deskripsi sensoriknya bisa dengan jelas—walau kadang sedikit malu-malu—menggambarkan banyak lapisan pikiran Aruna tentang kepribadiannya, pola pikirnya, keinginannya, kehidupan asmaranya, pandangan politiknya, dan bahkan kehidupannya yang—dia bilang—“tidak ortodoks”. Semua begitu… gastronomi. Bagaimana kuliner, makanan, dan yang berhubungan dengannya bisa masuk ke ruang-ruang sastrawi, politik, asmara, budaya, manusia.

Buku preloved – meski sudah krepes tapi justru itu seninya. 🤣

Tapi yang paling aku suka dari “Aruna dan Lidahnya”, novel ini membuatku banyak belajar, menemukan kosakata baru, dan membuatku menambah wishlist buku lain yang ingin kubaca setelahnya seperti: The Physiology of Taste karya Brillat-Savarin.

“Makanan tak menuntut ibadah dan kesetiaan, tak ganas maupun cemburu… tak menampik penggemar menu lain, apalagi menyatakan sesat…” – hal. 16

Ini salah satu kutipan di novel tersebut. Menjadi sepotong barisan kalimat—kalau bisa dibilang begitu—karena sumpah, aku sangat bingung waktu baru pertama baca prolognya. Prolog yang panjangnya sekitar 5 halaman itu hanya punya satu titik. Iya, satu. Hanya satu. Di akhir kalimat. Para polisi bahasa pasti mencak-mencak kalau baca prolognya. Bagaimana mungkin lima halaman tulisan titiknya cuma satu. Tapi, oh tapi, sebagai karya sastra—yang juga termasuk seni—siapa yang peduli? Sebebasnyalah, itulah letak estetiknya… mungkin. Meski aku sendiri rasanya seperti “engap banget bacanya”. Awalnya cuma diperasaan saja, tapi waktu dibaca ulang ternyata memang tidak ada titik hentinya. Rasanya jadi seperti menahan napas saat aku baca ayat Al-Qur’an yang katanya tidak boleh berhenti di sembarang tempat meski napasnya sudah mau habis.

Di bagian catatan belakang, Laksmi menambahkan, dia terinspirasi dari novel Narcopolis karya Jeet Thayil yang sudah lebih dulu membuat prolog sebegitu panjang dengan satu titik saja. Oh my… ini benar-benar ilmu baru.

Dari sana, aku menemukan kosakata seperti:

  • Menghidu = membaui, mencium, menghirup
  • Parokialisme = pandangan yang sempit
  • Giroskopis = mempunyai efek giroskopik (berputar pada sumbunya agar tidak jatuh, seperti gasing yang berputar)
  • Mausoleum = bangunan makam yang megah
  • Kertapnya = suara mengertap
  • Lesap = hilang, lenyap
  • Atonal = istilah untuk hal yang kacau, tidak harmonis
  • Sinse = tabib
  • Sembahyang rampas = ritual adat etnis Tionghoa untuk mendoakan arwah terlantar
  • Syahdan = selanjutnya, lalu, kemudian

Dan… karena ini novel tentang kuliner dan sekawannya, tidak afdal rasanya kalau belum menyebut makanan ya. Dari perjalanan Aruna, aku paling penasaran mencoba masakan Medan dan sekitarnya, deskripsinya kayak enak banget. Dan Naniura? Kayaknya bakal jadi makanan ekstrem buat dicoba tapi juga yang paling menggugah selera. Lalu diikuti mie kari medan dan pempek versi aslinya Palembang. Sisanya.. boleh antre lah.

Verdict: Novel ini harus dibaca pelan. Tapi sangat worth it buat dibaca sampai tamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *